Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2014-05-23 | Waktu : 09:10:03
Dosen Muda FDK IAIN SU Pengkaji TNB

Ziaulhaq, M.A. merupakan salah seorang dosen muda Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Sumatara Utara yang cukup banyak melakukan penelitian dalam bidang tasawuf, khususnya Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB) yang berada di Besilam Langkat, Sumatera Utara. Hampir semua karya tulisnya untuk beberapa tahun belakangan berkaitan dengan TNB dalam berbagai aspek pengkajian, khususnya yang berkaitan dengan pendekatan sosiologi dan antropologi.

Bagi pria yang lahir tahun 1982 ini, TNB merupakan sebuah organisasi tasawuf yang sangat menarik untuk diteliti dan dikaji karena selalu tersedia segudang data dan informasi yang perlu diungkap dan disajikan dalam lembaran kertas ilmiah.

Beberapa hasil penelitian Zia—panggilan akrab dosen muda ini—tercatat berkaitan tentang TNB telah dipresentasekan dalam berbagai forum ilmiah, baik nasional dan internasional yang diadakan di CRCS-UGM, Yogyakarta (2012), UIN Sunan Ampel, Surabaya (2012) dan IAIN Mataram (2013). Untuk tahun 2014, ia juga telah mendapat undangan untuk menyampaikan paper pada bulan Agustus di UIN Jakarta dalam “Southeast Asian Islam: Legacy and New Interpretation” dan bulan September di Universitas Andalas, Sumatera Barat dalam “Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke 15”, keduanya zia diundangan sebagai presenter yang akan menyampaikan paper tentang TNB. Selain itu, ia juga sering menjadi narasumber dalam berbagai forum diskusi di kampusnya dengan tema tarekat.

Ketertarikannya dalam meneliti tarekat karena secara akademis ia dipercayakan mengasuh mata kuliah tasawuf, yang merupakan bidang yang belakang ini ia geluti. Menurut zia, minatnya dalam memfokuskan kajian dalam penelitian TNB beranjak dari keprihatinannya terhadap sedikitnya peneliti lokal yang mengkhususkan mengkajian pada TNB padahal tarekat ini memiliki peran dan pengaruh yang besar di Asia Tenggara, khususnya dunia Melayu. Para peneliti TNB umumnya berasal dari luar seperti Denys Lombard dari Prancis, Martin van Brunessain dari Belanda, belakangan Itzchak Weismann dari Palestina dan banyak lainnya. Menurutnya, para peneliti luar ini tidak fokus dan mendalam menyajikan informasi TNB ke dunia luar, sehingga data yang tersaji tidak sebagaimana semestinya karena mereka tidak terlibat langsung di dalamnya sebagai bagian dari komunitas TNB ini. Selain itu, peneliti lokal lebih pada pengkajian doktrin semata, sedangkan aspek non doktrin dari TNB hampir tidak tersentuh sama sekali.

Tercatat sejauh ini, beberapa hasil penelitiannya yang berkaitan tentang TNB yang telah diterbitkan di berbagai jurnal dan proseding, di antaranya: “Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB): Situs, Silsilah dan Jaringan (2012)”, “Doktrin Poligami Kaum Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB) (2012)”, “Legitimasi Politik di Makam Tuan Guru: Perilaku Ziarah Politisi Lokal ke Tareket Naqsyabandiyah Babussalam (TNB) (2013)”, “Wasiat 44” Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB): Teks, Terjemah dan Interpretasi (2013)”, “Peran Kaum Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB) dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama di Tanah Batak (2013)”, “Lobe Runcing Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB): Identitas, Sakralitas dan Komoditas (2013)”, “Profil Sosial Khadim Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB) (2013)”, Bisnis Berkah di Makam Tuan Guru: Komodifikasi Spritual pada Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam (TNB) (2014)”, dan lainnya.

Tidak hanya terlibat sebagai peneliti, ia juga dalam beberapa kesempatan menjadi konsultan bagi para peneliti lokal yang mengkaji TNB dan ia juga selalu mengajak mahasiswa yang mengambil mata kuliahnya dalam bidang tasawuf untuk melakukan mini riset ke TNB ini. (sumber: Waspada, 22 Mei 2014)