Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2015-09-08 | Waktu : 12:53:35
Dakwah Pencerahan Adalah Suatu Keniscayaan

Berdasarkan fakta historis, setelah Rasulullah  diangkat menjadi Rasul secara definitif, beliau menjalankan tugas untuk mengajak umat manusia menyembah Allah. Di kala itu umat manusia telah bergelimang dengan keyakinan polyteisme (banyak tuhan). Wajar saja, kalau seruan meninggalkan keyakinan polyteisme menjadi monoteisme murni mendapat berbagai tantangan dan ancaman. Mereka menuduh Rasulullah sebagai tukang sihir, dan orang gila. Para sahabat yang masuk Islam dan meninggalkan keyakinan polyteisme disiksa dengan cambuk dan makian seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabbah dan Ammar bin Yasir. Seruan Rasulullah yang dimuali dari keluarganya sendiri dan dijalankan secara diam-diam, lalu meluas kepada masyarakat dan dengan cara terang-terangan adalah bagian dari dakwah pencerahan. Aplikasi dakwah pencerahan (dakwah tanwiriyah) sesungguhnya sudah dijalankan oleh Rasulullah 14 abad yang lalu.

            Dakwah pencerahan esensinya adalah seruan kepada umat manusia agar hidupnya cemerlangan dari berbagai aspeknya. Dakwah pencerahan mempunyai tiga aspek fundamental. Pertama, aspek at-tahrir yaitu pembebasan dari segala sifat yang negatif. Semua orang hidupnya harus diajak menuju pada kebebasan. Dia harus bisa bebas dari segala bentuk prilaku destruktif dan meninggalkan sifat-sifat yang membuatnya hidup menderita. Sifat malas, santai, tidak mau bekerja keras dan cerdas, buruk sangka terhadap orang lain, percaya kepada segala mistik yang menyesatkan, kultus kepada arwah para wali dan ulama adalah sesuatu yang harus dijauhkan dalam diri setiap individu muslim. Tegasnya, aspek at-tahir adalah pembebasan dari segala sifat dan prilaku yang tidak relevan dengan Islam.

Kedua, adalah aspek at- taqwiyah atau pemberdayaan. Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dengan kejadian yang paling sempurna (ahsanu taqwim) seperti yang dinyatakan dalam surat at-tin ayat 4. Kesempurnaan manusia itu meliputi aspek jasmani dan ruhani. Jasmani manusia begitu sempurna mulai dari ujung rambut sampai ujung mata kaki. Ruhani manusia juga demikian dan didalamnya diri manusia ada kekuatan atau daya. Prof. Kazuo Murakami P.h.D seorang ahli genetika warga Jepang yang kepakarannya diakui oleh dunia, dia menegaskan bahwa diri manusia setiap berat 1 kg ada satu triyun sel darah. Jika berat badan seseorang 75 kg, maka dalam dirinya ada 75 trilyun sel darah. Dalam sel darah manusia ada kekuatan yang disebut dengan gen. Gen inilah yang menggerakkan manusia dalam melakukan segala aktivitas hidupnya. Namun demikian, kata Murakami gen ini sifatnya hidup dan mati. Jika seseorang menghidupkan kearah yang positif, dia akan menjadi manusia yang hebat dan baik. Akan tetapi jika manusia membiarkannya mati, maka prilaku manusia akan negatif, lalu dia akan menjadi orang jahat. Hasil penelitian Murakami ini relevan dengan firman Allah dalam surat as-Syam ayat 9 dan 10 yang artinya; siapa saja yang berusaha membersihkan jiwanya pasti akan beruntung dan siapa yang mengotori jiwanya pasti akan merugi. Kekuatan diri manusia untuk menjadi orang baik dan maju merupakan anugerahkan Allah yang sangat berharga. Namun demikian, banyak orang yang tidak menyadarinya. Untuk itu perlu dilakukan dakwah pencerahan dari aspek at-taqwiyahnya.

Ketiga, aspek at-taqdim yaitu berkemajuan. Dalam hidup ini manusia tidak boleh statis dan menyerah tanpa usaha yang maksimal. Kekuatan atau potensi diri sudah diberikan oleh Allah. Dia menegaskan dalam surat ar-ra’du ayat 11 bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang sebelum dia berusaha merubahnya. Manusia akan bisa maju kalau bekerja maksimal dan tidak boleh putus asa.  Riwayat hidup Thomas Alva Edhison berangkali bisa jadi contoh. Di waktu kecilnya Edhison adalah seorang anak yang punya keterbelakangan mental. Hanya tiga bulan duduk di sekolah dasar, lalu dipulangkan gurunya kepada orang tuanya. Sang ibu tercinta yang berprofesi sebagai seorang guru menerimanya dengan penuh optimisme. Edhison disayangi ibunya, diasuh dan didik sendiri di rumah.  Akhirnya Edhison menjadi orang yang dikagumi dunia karena dia menggunakan potensi dirinya utuk mencapai kemajuan. Kurang lebih dia mengahiskan 6000 bahan percobaan barulah dia dapat menemukan lampu pijar bisa menyala dan tidak meledak. Tegasnya, potensi diri manusia untuk menjadi orang baik, taat keada Allah dan maju dalam berbagai aspek kehidupan adalah sesuatu yang bisa diupayakan melalui usaha yang sungguh-sungguh. Wallahu a’lam bis sawaf.