Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2015-09-08 | Waktu : 12:55:15
DAKWAH DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Islam adalah agama  salam – damai, memberi rahmat bukan laknat. Diturunkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Berkat usaha dan kesungguhan   para da’i yang tak kenal lelah, menjadikan   Islam dikenal dan dianut manusia  di berbagai belahan dunia  Timur dan Barat. Hal ini sekaligus menolak - pendapat Sarjana-sarjana Eropa  dalam beberapa generasi awal bahwa terjadinya perpindahan agama ke Islam dilakukan di bawah  ancaman  pedang dan masyarakat taklukan diberi pilihan untuk memeluk Islam atau dibunuh. Penaklukan muslim pada masa awal sejarah Islam umumnya bermaksud untuk menguasai daripada  untuk mengislamkan, sebagian besar perpindahan ke agama Islam berlangsung secara sukarela, tanpa paksaan (Ira M Lapidus, A History of Islamic Societies, 1989). Demikian juga ekspansi (perluasan Islam dalam arti politis)  disertai dengan  penyebaran Islam dalam arti agama menyebabkan banyak penduduk daerah-daerah yang dikuasai memeluk Islam, meskipun tidak sedikit pula komunitas masyarakat yang tetap menganut agama atau kepercayaan  mereka sebelumnnya.

Penduduk lokal yang tidak menerima Islam, mereka  tidak dipaksa untuk meninggalkan agama/kepercayaan mereka, dan  bagi mereka yang memeluk  Islam  adalah atas kesadaran sendiri, tanpa ada  paksaan, karena  Islam memberi kekebasan untuk menganut kepercayaan kepada manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an “Tidak ada  paksaan dalam  (memasuki) agama”(QS.al-Baqarah:256). Bahkan, Tuhanpun  mempersilakan  siapa saja   yang  mau beriman   atau kufur terhadap-Nya(QS. al-Kahfi:29).  Penduduk lokal itu tetap berpegang pada agama Kristen atau Majusi, meski wilayahnya  sudah ditaklukkan oleh Islam, dan baru kurang lebih dua ratus tahun sesudah datangnya Islam ke dearah-daerah itu kebanyakan mereka masuk Islam.

Dakwah di Indonesia tidak dimaksudkan untuk melakukan konversi (perpindahan) agama. Dakwah dilaksanakan  didasarkan atas kedasaran pluralitas keberagamaan. Berbagai gambaran real di lapangan menunjukkan bahwa merajut kerukunan dan toleransi di tengan pluralitas agama memang bukan hal mudah.  Beberapa faktor jelas merupakan ancaman bagi tercapai toleransi. Misalnya, sikap agresif para  pemeluk agama dalam menyiarkan agamanya, atau  orgaanisasi-organisasi keagamaan yang cenderung berorienttasi pada peningkatan jumlah anggota secara kuantitatif ketimbang melakukan perbaikan kualitas keimanan para pemeluknya. Ini merupakan ancaman seriuius yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Apalagi, diperparah oleh  disparitas ekonomi di antara penganut-penganut agama yang berbeda (Burhanuddin, 2000). Guna meminimalkan dampak ancaman di atas, umat Islam dan juga umat agama lainnya dituntut untuk menata aktivitas penyebaran atau dakwah agama secara proporsional dan dewasa.

Kedewasaan ini perlu karena membina kerukunan umat beragama  seringkali terkendala oleh adanya kenyataan bahwa  sosialisasi ajaran keagamaan  di tingkat akar rumput masih  banyak dikuasai oleh mereka yang kurang peka terhadap kerukunan umat beragama. Peristiwa pembakaran kios dan masjid di Tolikara Papua misalnya, seharusnya tidak perlu terjadi. Ini adalah contoh nyata bahwa seorang tokoh organisasi keagamaan buta terhadap pluralitas agama di sekitarnya. Sikap dan perilaku seperti ini sangat berbahaya dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

Dalam hal ini umat Islam di manapun tidak perlu terpancing dengan peristiwa Tolikara, karena perilaku yang tidak menghargai dan menghormati agama orang lain, itu sesungguhnya menghina dan merendahkan agama atau kepercayaannya. Karena itu, para da’i atau muballigh seyogianya terus menata dakwah yang ramah-santun dan  bersikap inklusif bukan eksklusif, menyadari heterogenitas masyarakat sasaran dakwah (mad’u) dan terpenting adalah menghilangkan unsur-unsur kebencian. Dakwah dilakukan dengan persuasif, menjauhi sikap memaksa,  menghindari pikiran dan sikap menghina dan menjelek-jelekkan agama lain, dan menjauhi sikap ektrimisme dalam beragama. Bagi para da’i atau muballigh perlu memilih materi dakwah yang menyejukkan, mengedepankan pesan-pesan agama  yang memberi kedamaian,  dan selalu menghindari provokasi massa ke arah destruktif karena hal itu tidak sesuai dengan Islam rahmatan lil alamin dan bertentangan dengan esernsi dakwah itu sendiri.