Sah ! Prof AAA Kompeten Jadi ToT SKKNI Level 4 BNSP

BANDUNG – Guru Besar FDK Prof Dr. Anang Anas Azhar MA yang akrab disapa AAA, dinyatakan kompeten setelah melalui ujian Training of Trainer (ToT) SKKNI Level 4 lesensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Lemdiklat Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam (Perma Pendis) Indonesia, di Bandung, Senin (27/04/2026).

Selain Prof AAA, guru besar UINSU lainnya Prof Tien Rafida dari FITK UINSU, dan Prof Dr Candra Wijaya MPd, juga dinyatakan kompeten setelah mengikuti ujian ToT SKKI Level 4 yang diselenggarakan Perma Pendis Indonesia, setelah mengikuti ujian selama 2 hari.

Ketua Perma Pendis Indonesia, Prof Dr H Badrudin, M.Ag, CIIQA, CEAM menyampaikan rasa bangganya atas kegiatan ini. Peserta yang ikut pada To Tini berasal dari PTKIN di seluruh Indonesia. “Kegiatan ini adalah upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia,” katanya.

Kegiatan ToT ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad (25–27 April 2026), di Hotel Grand Pasundan Convention Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat. Pelatihan dimulai setiap hari pukul 08.00 WIB dengan rangkaian materi yang berfokus pada penguatan kompetensi trainer berbasis kebutuhan dunia kerja.

Prof Badrudin mengatakan, tiga guru besar UINSU yang ikut dalam kegiatan ToT SKKNi Level 4 ini, setelah sebelumnya kompeten dalam ujian level 1, 2 dan 3. Ini menunjukkan komitmen akademisi UINSU dalam mengembangkan kapasitas sebagai pelatih profesional yang sesuai dengan standar nasional.

Materi yang disampaikan dalam ToT ini menitikberatkan pada metodologi pelatihan berbasis kompetensi (PBK) untuk sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) level 4 sebagai instruktur atau trainer. Pendekatan ini menekankan pentingnya kemampuan dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi pelatihan secara sistematis dan terukur.

Dikatakan Badrudin, pelatihan berbasis kompetensi ini, diawali dengan proses Training Need Analysis (TNA), yaitu identifikasi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki peserta dengan standar yang diharapkan. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam penyusunan program pelatihan yang terarah.

“Selanjutnya, kurikulum kemudian dirancang sebagai panduan umum, yang dilengkapi dengan silabus dan modul untuk merinci materi, metode, serta sistem evaluasi,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, kata dia, pendekatan andragogi menjadi pilihan utama mengingat peserta pelatihan adalah orang dewasa. Metode pembelajaran yang digunakan pun bersifat partisipatif, seperti diskusi, simulasi, role play, dan problem-based learning. Trainer dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang mendorong keterlibatan aktif peserta.

“Setiap sesi pelatihan disusun dalam bentuk lesson plan atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mencakup tujuan, materi, metode, tahapan kegiatan, serta evaluasi. Hal ini bertujuan agar proses pelatihan berjalan sistematis dan terukur,” katanya Badrudin.

Dia mengatakan, evaluasi pelatihan dilakukan dengan menggunakan model Kirkpatrick yang meliputi empat aspek, yaitu reaksi peserta, peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, dan dampak terhadap kinerja. Selain itu, asesmen berbasis kompetensi juga harus memenuhi prinsip valid, reliabel, fleksibel, dan adil. Bukti penilaian dapat diperoleh melalui observasi langsung, dokumen pendukung, maupun bukti tambahan lainnya.

Dia menyebutkan, secara keseluruhan, kegiatan ini menegaskan bahwa seorang trainer profesional tidak hanya dituntut memiliki kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga mampu merancang keseluruhan perangkat pelatihan secara komprehensif.

“Dengan mengikuti ToT ini, para guru besar saya harapkan semakin siap menciptakan proses pembelajaran yang efektif, interaktif, serta berorientasi pada pencapaian kompetensi peserta,” katanya. **