Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2015-03-27 | Waktu : 08:54:04
FDK UIN-SU, Dialog Radikalisme di Tengah Pluralisme

FDK UIN-SU, Dialog Radikalisme di Tengah Pluralisme 

Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN-SU Prodi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) melalui Senat HMJ, menyelenggarakan dialog interaktif  “Radikalisme di Tengah Pluralisme” hari Kamis, 03/03/2015 Pusat Bahasa UIN-SU. Dekan FDK UIN-SU Prof. Dr. Abdullah, M.Si kata sambutannya mengatakan dialog ini penting untuk dilakukan sebagai wujud pengembangan misi Prodi BPI  FDK UIN-SU concern mengakomodasi problem dan persoalan di masyarakat, dilakukan pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan BPI  dan konseling melalui pelaksanaan Tridarma dengan standar metodologi keilmuan modern mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, beradab dan bermartabat. 

Selain itu  secara akademik FDK UIN-SU  senantiasa mendorong kegiatan akademik berkelanjutan dalam membangun dinamika ilmiah seperti praktikum, studium general dan dialog/diskusi. Dialog yang dilakukan ini tentunya memberikan out-put pengkayaan dinamika ilmiah FDK UIN-SU terutama memahami konsep radikalisme dan pluralisme. 

Pernyataan sama juga ditegaskan Ketua Prodi BPI FDK UIN-SU Dr. Nispul Khoiri, MA  bahwa dialog ini cukup menarik, isu radikal di tengah kemajemukan masyarakat perlu menjadi perhatian. 

Apalagi fenomena radikalisme seperti  terorisme, geng motor, begal dan lainnya cukup menggangu ketenangan masyarakat di tengah kemajemukan. Menurut Dr. Nispul Khoiri, MA, juga pengurus FKUB 

Sumut ini, sesungguhnya tidak ada lagi ruang kehidupan ini tidak mengalami kemajemukan dan perbedaan, mulai kemajemukan agama, sosial, ekonomi, politik, pendidikan, etnis, ras, budaya dan lainnya. Menerima kemajemukan berarti menerima adanya perbedaan bukan berarti menyamaratakan, tetapi justeru mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak sama. Ini harus dijadikan mozaik memperindah fenomena kehidupan kemanusiaan. Maka dengan sendirinya harus ditolak berbagai paham, sikap dan praktek hidup mengandung unsur diskriminasi, fanatisme, premordialisme dan kekerasan atau terorisme. Kemudian kemajemukan diarahkan : (1). Memperkuat aturan/etika bersama tentang kerukunan internal dan antar umat beragama. (2). Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif. (3). Melakukan eksplorasi secara luas tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan yang mengarahkan dari seluruh keyakinan plural umat manusia. (4). Mengembangkan wawasan multi cultural bagi segenap unsur dan lapisan masyarakat. (5). Menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa perbedaan adalah suatu realita dalam kehidupan bermasyarakat.

Dr. Akhyar Zein, MA sebagai narasumber menyimpulkan, Alquran pro kepada pluralisme dan mengecam radikalisme. Semangat perbedaan dan kebhinekaan bukanlah hal baru, umat Islam sejak dahulu hingga kini terbentuk di tengah kebhinnekaan atau pluralisme dari berbagai komunitas, suku, kelolompok dan agama. Adanya Piagam Madinah merupakan penegasan adanya plural. Strategi Rasulullah menghapuskan penonjolan pendekatan clan – suku – qabilah, berobah dengan komunitas yang humanis antara Anshor (Auz dan Khazraj ) – Muhajirin (Kelompok Rasulullah) hidup berbaur dalam kerangka nilai – nilai ukhuwah yang diletakkan oleh Rasulullah. Sedangkan  Drs. Zulkarnain sebagai nara sumber berikutnya, menjelaskan radikalisme terjadi di tengah kemajemukan dan dapat  menjadi cikal bakal teroris. Bentuk radikalisme ada dua tahapan yakni tahapan pikiran dan tahapan perbuatan. Ciri radikalisme dalam Islam : (1). Penerimaan keabsahan penggunaan kekerasan sebagai sarana mencapai tujuan. (2). Penerimaan tentang perlunya perubahan menyeluruh pada idiologi sistem sebelum berlaku menjadi idiologi sistem Islam. Munculnya kejahatan seperti begal, geng motor yang akhir – akhir ini meresahkan masyarakat termasuk perbuatan radikal, tetapi tidak termasuk kategori perbuatan teroris sebagaimana perspektif UU teroris, namun dikategorikan perbuatan tindak pidana umum. 

Ketua HMJ BPI Alimuddin mengatakan dialog ini diikuti sebanyak 150 orang mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Sumatera Utara. Substansi dialog ini memperkuat pemahaman kalangan mahasiswa pentingnya kehidupan yang harmonis dan bebas konflik di tengah suasana plural.